Semua artikel dapat dipesan dalam bentuk file .pdf secara gratis dengan menjadi Anggota PUSREFIL


Media KBI

Pendidikan di India





Oleh PUSREFIL

Sejak tahun 1947 saat anak benua India lepas dari kekuasaan kolonial Inggris, rakyat India dengan optimis menyatakan bangsanya sebagai India Baru (Bharat). Republik India memang baru, dalam pengertian bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah, India menjadi bangsa yang dipersatukan secara politik. India juga baru dalam hal pengaruhnya yang semakin meningkat terhadap urusan dunia dan struktur pemerintahannya yang berpola demokratis politik. Selain itu, masuknya lembaga dan teknik modern dalam skala besar untuk meningkatkan perubahan sosial dan ekonomi menjanjikan suatu kondisi permanen untuk “kebaruan “  tersebut. Namun, perubahan dramatis berlabel India Baru yang progresif seharusnya tidak diartikan seakan-akan India telah melepaskan masa lalu dan sepenuhnya membentuk kebudayaan baru. India modern sangat dicirikan oleh masa lalunya, baik pada masa kuno maupun masa yang akan baru saja dilewati.

Perkembangan Sejarah

Jauh sebelum bangsa Eropa terpesona oleh karyawan India yang beraneka ragam, kebudayaan India sudah maju dalam segala bidang, kecuali teknologi. Maka, untuk memahami India kontemporer, mula-mula orang harus mengenal India kuno-tradisi agama dan sastra, kontribusi skolastik, suku, dan faktor lain yang telah membentuk keanekaragaman sosial dan persatuan di India modern

Tradisi Sejarah Kuno

Peradaban India biasanya ditemukan pada tahun 4000 S. M. yang diyakini sezaman dengan kebudayaan Cina. Sejak 2000 S. M., peradaban in telah mengalami banyak kemunduran da relatif menjadi sasaran empuk bangsa Indo-Arya. Bangsa Indo-Arya yang bertubuh tinggi dan berkulit kuning memasuki India melalui gunung-gunung yang berjajar di Asia Tengah. Kendati secara kultur bangsa Arya telah terbelakang, namun rencana penaklukan terhadap suku pribumi (suku yang terbesar bernama Dravidia) ternyata membuahkan hasil. Selama periode pendudukan dan pembauran bangsa Arya dengan suku Dravida dan penduduk asli lainnya, tradisi bangsa India yang besar dituangkan dalam bentuk tulisan yang terpelihara hingga masa mendatang. Hasil pembauran bangsa dan pemikiran di bawah kepemimpinan bangsa Arya ini disebut peradaban India.1
Kesusastraan agung India, yaitu Weda yang religius-filosofis, lahir pada “masa pertumbuhan” peradaban India, kira-kira 1300 – 700 S. M. Weda tersusun dari empat kumpulan naskah utama (1) Rigweda-“kumpulan nyanyian pujian yang dinyanyikan atau diceritakan oleh pendeta pada upacara pengorbanan”, (2) Samaweda-“kumpulan lagu untuk nyanyian”, (3) Yajurweda-“ rangkaian atau petunjuk untuk menyelenggarakan upacara pengorbanan”; (4) Atharwaweda-“kurang religius dibandingkan dengan tiga naskah yang lain. Atharwaweda adalah kitab doa-doa untuk rakyat biasa.”2
Kitab nyanyian pujian Weda menghasilkan penafsiran ritualistik yang disebut “Brahmana” dan “Aranyaka.” “Brahmana” dan “Aranyaka” kemudian menghasilkan penafsiran simbolis dan filosofis yang disebut “Upanishad.” Risalat-risalat spekulatif dalam Upanisahad terutama dipusatkan pada “penafsiran mistis ritual Weda dan hubungannya dengan manusia dan alam semesta.”3 Selain Weda dan Upanishad, ada dua epik (kisah kepahlawanan) dengan ruang lingkup amat luas yang layak diketengahkan, yaitu Mahabharata yang disebut-sebut sebagai syair terpanjang di dunia, dan Ramayana. Keduanya seringkali disamakan dengan Iliad  dan Odyssey dari zaman Yunani Kuno. Mahabharata dan Ramayana memaparkan dasar-dasar filsafat Weda dalam bentuk yang sudah sangat populer di kalangan rakyat India selama berabad-abad. Untuk orang-orang yang menolak pengetahuan dalam bentuk kata-kata tertulis, Mahabharata dan Ramayana sangat mendukung berkembangnya sebuah warisan berharga yang disampaikan secara lisan.
Para ilmuwan cukup sepakat bahwa etos dasar peradaban India dan Hindu adalah religius, sehingga diperlukan gambaran yang lebih jelas tentang prinsip-prinsip umum yang ditemukan dalam Weda dan naskah-naskah tambahan eksposisinya. Barangkali filsafat Weda yang paling mendasar adalah keyakinan bahwa di luar alam eksperiensial dan candi dewa-dewa alam, terdapat prinsip atau jiwa yang mempersatukan, yaitu Brahma. Individunya sendiri, Arman, terkait dengan Brahma karena “alam semesta adalah Brahma, tetapi Brahma adalah Atman.” Ciri ini (Brahma = Atman) menunjukkan kesatuan di antara semua makhluk hidup- suatu pandangan yang mengingatkan pada beberapa filosofi Cina, tetapi untuk memahami ciri-ciri ini-pencarian kesatuan antara individu dan Alam Semesta- tetap menjadi kekuatan pendorong yang signifikan bagi masyarakat India sekarang.
Pentingnya karya-karya sastra tersebut dalam memahami India modern tak hanya sebagai catatan sejarah, tetapi terutama karena di dalamnya, khususnya Upanishad, terdapat ajaran dasar mengenai segala sesuatu yang dikenal sebagai Hinduisme atau agama Hindu. Menurut sejarah, umat Hindu menganggap Weda sebagai kumpulan kebenaran mutlak yang diwahyukan; dan kepercayaan akan wahyu ini masih diakui oleh sebagian besar orang Hindu pada saat ini. Tanpa pengetahuan mengenai Hinduisme, seseorang tidak dapat menemukan kunci untuk memahami India modern, hubungannya dengan Tuhan dan sesama umat manusia, dan citra dirinya sendiri. Meskipun sebenarnya tidak memiliki aturan agama, Hinduisme lebih dari sekadar dogma agama. Hinduisme telah menjadi cara hidup dengan implikasi sosial, ekonomi, politik, dan juga agama bagi sebagian besar rakyat India selama lebih dari dua ribu tahun.
Meskipun menjadi pegangan hidup yang meliputi segala hal, Hinduisme4 menggambarkan keberadaan dunia dan sisi negatifnya sebagai sesuatu yang tidak penting dalam perjalanan jiwa menuju tujuan terakhir, yaitu: mencapai nirwana (istilah ini mula-mula berasal dari agama Budha). Di nirwana individu sirna dalam kesatuan mistis dengan Brahma. Orang Hindu yang Ingin mencapai nirwana atau ketiadaan, harus melaksanakan tugas-tugas duniawi dan ritual agama yang sesuai dengan kedudukannya dalam kehidupan, tetapi yang lebih penting, ia harus melakukan meditasi sehingga pikirannya bisa disucikan dari hal-hal duniawi. Jiwa harus meneruskan pencariannya sampai beribu-ribu tahun, menemukan ganjaran melalui reinkarnasi berturut-turut di dalam tubuh berbagai manusia dengan kedudukan sosial yang semakin tinggi seiring dengan peningkatan jiwa tersebut ke arah tujuan terakhirnya. Dengan demikian, Hinduisme cenderung menghasilkan suatu masyarakat yang diwarnai fatalisme yang menganggap status individu sebagai akibat perilakunya pada kehidupan sebelumnya, dan segala upaya dari pihaknya untuk mencapai status yang lebih tinggi dianggap sebagai bentuk penghindaran bagi peningkatan jiwanya. Pentingnya meditasi dan tujuan terakhir, yaitu: mencapai keadaan di mana urusan manusia dan materi tidak berarti lagi, cenderung menghasilkan masyarakat yang oleh banyak pengamat lebih dicirikan sebagai masyarakat spiritual dan banyak bertafakur daripada masyarakat yang materialistis dan aktif.
Salah-satu kekuatan utama yang memecah-belah masyarakat India adalah sistem kasta. Sistem kasta erat kaitannya dengan konsep hindu mengenai kehidupan, tetapi juga mengakarkan hasrat untuk mempertahankan perbedaan ras dan kebudayaan dalam menghadapi serangan gencar kamus pendatang. Mengenai asal-usulnya, kalangan sarjana berbeda pendapat dalam beberapa hal, tetapi agaknya kasta dikaitkan dengan jabatan dan warna kulit. Pembagian kasta pada suku Indo-Arya ditetapkan di antara Indo-Arya dengan bangsa-bangsa lain. Dari pembilahan masyarakat ini, muncul empat kasta utama. Secara tradisional, kasta Brahmana—pemimpin spiritual—adalah kasta yang paling dihormati. Di bawahnya ada kasta Kshatryiya, yaitu prajurit perang dan orang-orang yang duduk dalam pemerintahan; kasta Waisya, yaitu kaum pedagang; dan kasta Sudra atau budak. Di bawah keempat kasta utama, berkembang banyak kasta dan subkasta yang terbentuk dari masuknya kaum pendatang, serikat pedagang, golongan agama, golongan ras-campuran, dan golongan-golongan yang menolak sistem kasta. Setiap kasta bersifat turun-temurun dan endogami (praktik sosial yang menikahkan anggota kel kasta yang sama), dan bertanggung-jawab atas hubungan di dalam kasta dan hubungan anggota kasta dengan kasta yang lain.5
Definisi kasta telah menjadi sedemikian rumitnya, sehingga keempat klasifikasi tadi tidak banyak berarti dalam masa modern. Wallbank malah mengusulkan agar semua kasta digolongkan dalam tiga kategori besar: Golongan pertama meliputi kaum Brahmana; klan Rajput yang dianggap mewakili Kshatriya kuno; dan para pedagang yang mengklaim dirinya sebagai generasi kedua kasta Waisya.6 Golongan kedua meliputi semua kasta Sudra tradisional yang sekarang dikelompokkan bersama sebagai bukan generasi kedua. Golongan paling bawah adalah the untouchables (yang tak tersentuh atau Paria) yang juga dikenal sebagai “depressed classes” (golongan tertindas) atau “scheduled castes” (kasta yang dirugikan).7
Sepanjang sejarah India, komposisi kasta ada bermacam-macam. Budha dan penakluk beragama Islam sesudahnya tentu saja menentang konsep kasta. Selama periode Pax Brit├ínica (kira-kira tahun 1850-1910), keyakinan Inggris tentang “persamaan Keadilan” memicu konflik langsung dengan kasta tradisional. Namun, tindakan paling tegas yang mengekang ketidak-adilan kasta harus menunggu datangnya kemerdekaan nasional.
Sebagai alat untuk mempertahankan kepribadian terhadap bermacam-macam kebudayaan di dalam satu masyarakat yang stabil, sistem kasta disebut-sebut sebagai “lambang tertinggi kejeniusan Peradaban india”8 namun, pada saat yang sama, sistem tersebut harus dianggap sebagai penghalang yang sangat kuat terhadap aspirasi mobilitas individu dan tujuan nasional pembangunan.
Menurut sistem kasta, keluarga besar atau patrilocal (istri tinggal bersama keluarga suami setelah menikah) dan komunitas desa dianggap sebagai pilar-pilar penyangga masyarakat india. Keluarga besar terdiri dari ayah, anak laki-laki, cucu laki-laki, dan kaum wanita masing-masing yang menurut riwayat berbagi tanah, penghasilan, makanan, dan bersembahyang bersama-sama. Anak perempuan dan cucu perempuan juga menjadi anggota keluarga besar sampai mereka menikah. Apakah keluarga besar ini tinggal bersama dalam satu rumah tangga, ataukah anak laki-laki mendirikan rumah tangga baru segera setelah menikah sebagaimana lazimnya di zaman modern, pengambilan keputusan individu atau kelompok untuk hal-hal penting dilakukan oleh sebuah dilakukan oleh sebuah majelis sesepuh keluarga yang dipimpin anggota keluarga laki-laki tertua. Seluruh keluarga juga berfungsi sebagai satu kelompok dalam upacara keagamaan kasta, kegiatan usaha ekonomi yang besar, melindungi dan mengatur hubungan sosial anggota-anggotanya.
Pilar ketiga dalam masyarakat India adalah desa. Dalam masa India kuno, desa juga sudah berkembang dan menggabungkan keluarga beberapa kasta menjadi unit-unit semi-independen dan swasembada yang tetap menjadi pusat kehidupan penduduk perdesaan India kontemporer. Urusan unit perdesaan diatur scr tradisional oleh majelis yang terdiri dari para kepala keluarga, kepala kampung kasta lokal, dan terutama orang-orang berpengaruh lainnya dalam komunitas. Keputusan penting yang menyangkut seluruh desa diambil dan dilaksanakan melalui majelis ini. Seringkali majelis bertindak bersama keluarga atau kasta untuk mengatur tingkahlaku tidak baik individu atau kelompok di dalam komunitas. Desa-desa di India ser dicirikan sebagai unit yang pada dasarnya demokratis karena sifat majelis desa yang representatif dan sedapat mungkin lebih mengandalkan persuasi daripada pemaksaan. Selain itu, desa melengkapi India dengan struktur stabilitas kemasyarakatan efektif lainnya. Struktur tersebut memang menjadi syarat penting bagi pembentukan dan kelanjutan bangsa India mengingat sejarah penyerbuan, pembilahan agama dan sosial yang panjang , tetapi ternyata juga merugikan karena desa pedalaman yang terstruktur ketat biasanya menolak perubahan politik, ekonomi, dan sosial, bahkan sampai pada taraf melarang keluarga-keluarga dari desa lain untuk bermukim di wilayah kekuasaannya.
Meskipun sudah ada suatu suatu kesatuan budaya yang nyata, India kuno belum pernah dipersatukan menjadi satu kesatuan secara politik. Alasan inilah dan juga alasan-alasan lain yang menyebabkan tidak adanya program pendidikan negara. Tetapi, sudah berkembang semacam pendidikan formal bagi anak laki-laki dari tiga kasta tertinggi yang ditujukan untuk mengembangkan karakter moral dengan memelajari sastra Weda dan tulisan-tulisan keagamaan lainnya. Pola pendidikan yang paling umum berupa pengajaran pribadi di bawah bimbingan guru (master), yaitu pria-pria yang awalnya sudah pernah melaksanakan semua upacara keagamaan yang ditentukan dan biasanya—meskipun tidak selalu—adalah anggota kasta Brahmana. Seorang guru dapat menerima sejumlah murid di rumahnya. Mereka melayani, meminta sedekah (sebagai bentuk pelatihan moral), dan diikut-sertakan dalam pelajaran-pelajaran akademik yang lebih ditekankan pada hafalan dan menirukan secara lisan. Kunci menuju keberhasilan pendidikan adalah ikatan yang kuat antara guru dan murid:
Muridlah yang menemui gurunya; ia tinggal bersama sang guru sebagai anggota keluarga dan diperlakukan sebagai putranya… Dengan demikian, ia belajar dan menyerap metode pribadi sang guru dan berhubungan dengan semangat karyanya.9

Lingkungan pengajaran yang dianggap sangat penting adalah lingkungan yang hening, lebih disukai bila dikelilingi dengan pepohonan.
… sekolah adalah rumah guru, sebuah pertapaan di tengah-tengah hutan yang jauh dari hiruk-pikuk keid kota, di tengah keheningan dan suasana tenang, sebuah tempat yang sunyi dan baik sekali untuk merenung dan bermeditasi mengenai Kebenaran (truth) atau Kenyataan (reality).10

Pendidikan yang diterima anak laki-laki di “lingkungan hutan” ini merupakan kombinasi pengetahuan ritualistik dengan pengetahuan akademik. Pendidikan dianggap selesai sewaktu-waktu bila guru menyatakan demikian.
Penerimaan seorang anak laki-laki oleh guru merupakan bagian dari ritual pendidikan agama dan terjadi setelah anak tersebut terlibat dalam upacara keagamaan sederhana, belajar alfabet, dan barangkali dasar-dasar aritmetika dan—sejak abad ke-4 S.M. saat dihasilkan sebuah naskah—menulis. Pendidikan selalu dipengaruhi pemikiran Hindu, berpusat pada pengembangan disiplin-diri dan pengetahuan religius yang akan membantu mcp tujuan spiritual dan pada dasarnya sama dengan kelahiran spiritual—kebalikannya dengan kelahiran jasmani. Kurikulum sangat bernuansa sastra, tetapi perhatian khusus diarahkan pada peranan yang akan dijalani murid sebagai anggota kasta dalam masyarakat. Ilmu militer dan ekonomi, seni berperang dan ilmu perdagangan dapat diajarkan kepada murid yang kelak membutuhkannya. Perhatian terhadap kurikulum yang lebih praktis juga didasarkan pada filosofi Hindu yang menegaskan bahwa tujuan spiritual hanya dapat tercapai apabila manusia melaksanakan kewajibannya dalam kehidupannya sekarang dengan sebaik-baiknya.
Di samping sekolah-rumah (home-school), muncul jenis institusi pendidikan lain untuk memenuhi kebutuhan murid yang lebih tua. Seperti kelompok-kelompok murid di Eropa zaman pertengahan, kelompok murid di India kuno mengembara menembus daerah pedalaman untuk mengabdikan diri kepada cendekiawan-cendekiawan terpelajar dan turut serta mendengarkan serta berdebat. Saat dilembagakan, pengaturan demikian disebut akademi, perkumpulan debat, atau kadang-kadang “universitas”.11 Meskipun pendidikan bersifat pribadi, universitas-universitas ini, terutama di Taxila dan Benares, sudah termasyhur sebagai pusat-pusat pengetahuan terkemuka dan didatangi pelajar-pelajar dari seluruh Asia. Selain matapelajaran ag lanjutan, ada kegiatan olahraga, institut militer dan kedokteran, departemen ekonomi, botani, filsafat, dan mungkin astronomi.
Selanjutnya, beberapa abad sebelum Masehi, sudah diupayakan sistem pendidikan yang agak luas di India, setidaknya untuk beberapa anggota kasta atas. Perlu dicatat bahwa wanita tidak sepenuhnya dilarang mengikuti kegiatan intelektual sebagaimana ditegaskan oleh ahli filsafat ternama seperti Gargi dan Maitrey yang percakapan-percakapan tertulis dalam Upanishad. Kendati sebagian besar perhatiannya terbentuk pada sisi moral watak manusia, pendidikan ini sungguh-sungguh menyebarkan bahasa bersama (Sansekerta) dan budaya bersama. Selain itu, ada bermacam-macam pendidikan sekuler di tingkat lanjutan. Jadi, pada dasarnya pendidikan ditambah dengan kecakapan militer telah memastikan dominasi bangsa Arya atas suku bangsa non-Arya yang bermacam-macam.

Pengaruh agama Budha dan Islam

Gautama Sakyamuni yang kemudian dikenal sebagai sang Budha hidup pada zaman gejolak intelektual dan berkembangnya ketidak-puasan terhadap perangai Hinduisme yang aristokratik dan ritualistik secara berlebih-lebihan. Sang Budha khususnya sangat merisaukan sikap para Brahmana dan saudagar kaya yang congkak, karena ia percaya bahwa kesulitan manusia berasal dari ketidak-mampuannya untuk mendisiplinkan dirinya sendiri dari keinginan terhadap hal-hal materi. Penafsiran jalan menuju nirvana yang diberikan oleh Budha dan para pengikutnya terangkum dalam “Empat Kebenaran Mulia (The Four Noble Truths)” agama Budha:
  1. …semua kehidupan adalah penderitaan yang tidak dapat dihindari;
  2. …penderitaan terjadi karena keinginan;
  3. …penderitaan hanya dapat dihentikan dengan menghentikan keinginan;
  4. …caranya hanya dapat dilakukan dengan latihan berdisiplin dan tingkah laku moral secara hati-hati, mencapai puncak did kehidupan dengan konsentrasi dan meditasi yang dipimpin oleh biksu.12
Ajaran Budha cepat menyebar di seluruh penjuru India dan tetap menjadi suatu kekuatan religius yang vital selama sepuluh abad. Ajaran Budha menggunakan pengaruh demokratisasi pada masyarakat yang ditunjukkan, misalnya, dengan menerima semua kasta di pusat-pusat pengetahuan agama Budha. Meskipun ahimsa atau mencintai dan anti-kekerasan terhadap segala makhluk hidup dapat ditemukan pula pada agama Budha, pengaruh luas agama itu di India hampir tidak dapat ditentukan sebab sejak abad ke-12, agama Budha kembali tertahan oleh arus kuat agama Hindu. Namun, riwayatnya berbeda dengan yang berkembang di banyak wilayah Asia lainnya. Di tempat-tempat itu, agama Budha sebagai suatu agama terpisah tetap bertahan sebagai sebuah kekuatan dalam kehidupan jutaan rakyat.
Penaklukan militer oleh bangsa Arya dan kelompok penyerbu lain yang kurang berkuasa, maupun keberhasilan penetrasi agama Budha, tidak dapat sepenuhnya mempersatukan anak benua India. Satu demi satu kekaisaran berdiri di India utara, tetapi hanya sedikit berpengaruh pada berbagai kerajaan di selatan.
Kaum Muslim mengawali invasinya di India pada abad ke-10 Masehi., tetapi baru pada akhir abad ke-17 kekuatan Islam berhasil mempersatukan seluruh anak benua untuk sementara di bawah satu penguasa. Berbeda dengan para penyerbu sebelumnya, kaum Muslim menolak beradaptasi dengan masyarakat yang didominasi agama Hindu. Penolakan ini terutama karena pengaruh Islam, yang seperti halnya Hindu, menjadi cara hidup yang mencakup segala hal. Meskipun terpisah, kedua masyarakat ini saling memengaruhi. Beberapa eleven demokrasi yang ada pada Islam membawa gerakan pembaharuan dan pembebasan dalam Hinduisme, sedangkan Hindi—bahasa daerah sehari-hari orang India—dikombinasikan dengan bahasa Arab membentuk bahasa Urdu yang menjadi bahasa pergaulan (lingua franca) di kalangan orang Islam. Pengaruh Islam memberikan tekanan terakhir bagi wanita-wanita Hindu yang kehilangan statusnya sesudah masa sarjana-sarjana wanita termasyhur pada awal zaman Weda untuk kian terasing.13 Upaya-upaya para pemimpin Hindu dan Muslim untuk menciptakan perpaduan di antara kedua agama besar ini memang tak banyak berhasil, namun benar-benar memperkaya kesusastraan bahasa daerah pribumi.14 Perpaduan estetis dari kedua kebudayaan itu banyak sekali menghasilkan karya seni yang indah, terutama dalam arsitektur.15
Pada periode Islam berikutnya, terutama selama kekaisaran Mughal atau Mogul (1526-1707), India kembali menjadi pusat ilmu pengetahuan dan creativitas sastra. Penguasa-penguasa Islam terdahulu tidak memiliki kebijakan yang tetap di bidang pendidikan, tetapi pemimpin-pemimpin besar Mughal--Babar, Akbar, Aurangzib, dan lain-lain—mencurahkan ikhtiar-ikhtiar penting untuk memajukan ilmu pengetahuan Islam, walaupun memang tidak selalu menyambut baik pendidikan Hindu. Pendidikan Islam diperkenalkan dengan mengikuti pola yang sama dengan pendidikan yang diselenggarakan di negara-negara Arab dan menjadi jalur pendidikan kedua yang berlangsung berdampingan dengan peninggalan Hindu yang relatif tetap dari India kuno. Seperti halnya kegiatan sipil dan keagamaan, kegiatan pendidikan Islam berpusat di masjid. Anak-anak di maktab (sekolah dasar) dan madrasah (sekolah menengah atau sekolah tinggi) belajar mengaji dan menghafalkan kebenaran yang diwahyukan dalam Al-Qur’anak, kepandaian tatabahasa dan pengetahuan aritmetika. Ceramah tentang topik sastra dan keagamaan diselenggarakan di masjid dan koleksi buku-buku penting disimpan di sana. Selain itu, didirikan beberapa akademi atau universitas di semua daerah Islam untuk meningkatkan pembelajaran lanjutan. Konon, akademi dan universitas itu dihadiri pula oleh sejumlah orang Hindu. Di institusi-institusi ini, Al-Qur’an dan kesusastraan Arab kembali menjadi tulang punggung kurikulum. Ilmu hukum (kebanyakan teokratik), matematika, dan sejarah juga mendapatkan perhatian.
Meskipun baik penguasa Islam maupun Hindu tidak mencanangkan suatu sistem pendidikan negeri, kedua golongan menganggap dukungan terhadap pendidikan sebagai kewajiban religius. Dermawan dari keluarga kerajaan mendukung ilmu pengetahuan melalui sumbangan langsung kepada institusi dan menyediakan tunjangan bagi para penyair, seniman, dan pemain musik. Baik umat Islam maupun Hindu memberikan penghargaan sosial terhadap seni mendidik. Banyak diceritakan riwayat pemimpin-pemimpin militer dan politik hebat yang sangat hormat kepada guru-guru sederhana.
Namun seperti halnya di Cina, tradisi ilmiah termasyhur di India menguat menjadi sistem ortodoksi yang menentang perubahan masyarakat. Gerakan heterodoksi religius dan kekuatan rasionalisme sekuler kuat yang berhasil meruntuhkan keseragaman ideologi masyarakat Eropa dan mengantarkan suatu zaman modern tidak terjadi pada India prakolonial. Tujuan pendidikan India sebagai tujuan kehidupannya sendiri lebih bersifat sakral daripada sekuler dan menawarkan beberapa visi batas filosofis atau materi baru yang menantang upaya manusia.

Pendidikan Anglicizatian

Kekayaan India, tumbuhan rempah-rempah yang subur, dan bahan lain yang indah menjadi daya pesona yang menarik pedagang-pedagang Eropa yang gemar berpetualang. Namun, sejak akhir abad ke-15, usaha dagang perseorangan yang penuh bahaya telah membuka jalan bagi eksploitasi besar-besaran yang dipimpin perusahaan dagang Portugis, Belanda, Francis, dan Inggris. British East India Company didirikan pada 1600. Pada pertengahan abad ke-18, perusahaan ini berhasil menyingkirkan saingan-saingannya di anak benua itu dan membuka jalan untuk mendapatkan mendapatkan harya kekayaan bagi kekaisaran Inggris kolonial. Pada pertengahan abad ke-19 ketika East India Company mengalihkan kekuasaan di India ke dalam pengawasan pemerintah Inggris, seluruh anak benua itu dikelola secara langsung oleh perwakilan-perwakilan Inggris maupun secara tidak langsung melalui perjanjian tambahan dengan para penguasa negara bagian yang berkedudukan sebagai raja muda. Pemerintah Inggris berhati-hati dalam mencampuri adat-istiadat sosial di India, yang ditunjukkan dengan keengganan masyarakat untuk menghapuskan sutee—membakar sang janda pada upacara pembakaran jenazah suaminya—namun gagasan dan pemikiran Inggris tetap menjadi yang utama dalam urusan politik dan perekonomian.
Untuk membangun India sebagai sumber bahan mentah dan pasar bagi perekonomian industri Inggris yang sedang tumbuh, pemerintah Inggris memprakarsai beberapa kebijakan penting. Sistem komunikasi dan transportasi modern disediakan, sehingga dalam tingkatan tertentu, desa yang tadinya terisolasi bisa memiliki pasar yang lebih luas dan dalam prosesnya membuat mereka lebih tergantung pada ekonomi uang (money economy). Perhatian pemerintah Inggris terhadap stabilitas dan tatanan sipil yang menghasilkan penetapan sistem legal, sebagian besar didasarkan—meskipun tidak semata-mata—pada konsep Barat. Prinsip yang mendasari persamaan kedudukan di hadapan hukum tanpa memperhatikan kasta, memiliki implikasi revolusioner pada masyarakat India yang secara tradisional menganut status sosial berdasarkan kelahiran.
Aspek lain dari kebijakan pemerintah Inggris adalah berkembangnya sistem administrasi yang adil dan efektif untuk pertama kalinya di India. Setelah melakukan eksperimentasi, pemerintah Inggris mencanangkan kebijakan yang memberikan masukan kesempatan pada berbagai daerah geografis yang berada di bawah pemerintahan turun-temurun dan stabil raja muda untuk mengelola urusan internalnya sendiri. Jadi, kawasan-kawasan di anak benua India tidak pernah dikelola secara langsung oleh pemerintah Inggris, melainkan tetap berada di bawah kekuasaan otokrat pribumi. Semua urusan eksternal ada di bawah kekuasaan pemerintah kolonial, yang juga menguasai hak untuk campur tangan dalam urusan lokal apabila kepemimpinan raja muda khususnya mengganggu kesejahteraan rakyat. Kelonggaran ini berakibat beberapa negara bagian yang diperintah raja muda tetap luar biasa terbelakang dan benar-benar terisolasi dari perubahan yang berlangsung di India sepanjang periode kolonial. Lebih jauh lagi, berbagai kepentingan yang diberikan pada raja-raja muda dan tidak adanya rasa kebangsaan di pihak rakyat di kemudian hari memunculkan penghalang bagi persatuan saat India menjadi sebuah bangsa baru.
Inti sistem administrasi sipil16 adalah Indian Civil Service, sebuah kelompok yang terdiri dari orang-orang pilihan dan cakap, suka bekerja keras, dan Bangla akan efsiensi dan kebebasan dari korupsi. Kelompok ini sedikit sekali jumlahnya, sebab mereka mendelegasikan banyak tanggung-jawab kepada sejumlah besar pegawai India. Pada mulanya Indian Civil Service seluruhnya terdiri dari orang-orang Inggris; kelompok ini segan membuka diri bagi keanggotaan orang India, meskipun sampai hari-hari terakhir periode kolonial, mereka sebenarnya sudah dikecualikan dari posisi-posisi tinggi. Tahun 1892, hanya 21 dari 939 anggota yang merupakan orang India. Walaupun memiliki banyak kekuasaan, staff pegawai administrasi dan pemerintahan kolonial Inggris umumnya dikecam karena mereka seperti mesin yang tidak berperikemanusiaan dan menjauhkan diri dari rakyat yang diperintahnya.
Perubahan yang dilakukan pemerintah Inggris pada struktur sosial masyarakat India terutama berdasarkan pada kebutuhan akan sistem pemerintahan yang efisien. Tujuan ini akhirnya mendorong pencanangan sistem pendidikan yang mempergunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar pendidikan dan mengikuti kurikulum sekolah Inggris. Pemindahan sistem sekolah Inggris ke India diperkirakan akan menghasilkan pegawai kantor dan pemerintahan lain yang menguasai kepandaian berbahasa dan ciri pembawaan yang penting untuk menjalankan kantor-kantor pemerintahan Inggris.
Kebijakan British East India Company semula tidak memungkinkan pensahan itu untuk terlibat luas dalam pembentukan lembaga-lembaga India. Oleh karena itu, dengan beberapa pengecualian yang akan dibahas kemudian, gagasan pendidikan Barat diperkenalkan oleh misionaris Eropa. Meskipun misionaris Katolik, terutama misionaris Jesuit dari Portugis, sudah aktif saja awal usaha pendidikan, sebagian besar lapangan pendidikan di India dikuasai perkumpulan misionaris Protestan. Selama abad ke-18, Alkitab dan naskah-naskah Kristen lainnya dialih-bahasakan ke dalam bahasa-bahasa daerah India. Beberapa pegawai East India Company setidak-tidaknya memberikan dukungan moral kepada para misionaris, tetapi para pemimpinnya kerap menyuarakan penentangan. Selain itu, permusuhan akibat saling tidak percaya di antara penganut Hindu dan Islam, smk menghambat upaya misionaris dalam bidang pendidikan. Meskipun terdapat kekakuan dan kefanatikan tertentu yang biasa dikenal dalam aktivitas misionaris,17 sekolah-sekolah misi walaupun sedikit jumlahnya telah menjadi ruas penting bagi pengenalan pendidikan Barat.
Misionaris Protestan Inggris yang aktif mendirikan sekolah-sekolah berbahasa daerah dari Ceylon sampai Benggala, mendapat dukungan dari Parlemen untuk kepentingan kepndidikan dan keagamaannya. Tuntutan diajukan agar pemerintah Inggris memenuhi kewajiban membawakan cahaya melalui ajaran Kristen ke dalam India yang gelap-gulita. Tahun 1973, seorang anggota Parlemen berupaya mengusulkan ketentuan-ketentuan khusus pada piagam East India Company untuk mendorong upaya misionaris dan guru sekolah di India. Usulan ini ditolak oleh para pemimpin perusahaan. Mereka tidak ingin ikut campur dan menyatkan bahwa masyarakat Hindu:
…sudah memiliki sistem keyakinan dan moral yang baik seperti halnya masyarakat lainnya. Suatu hal yang gila apabila berusaha mengubah agama mereka atau mengadakan lebih banyak pendidikan atau deskripsi pendidikan apa pun lainnya melebihi apa yang sudah mereka punya.18

Selain itu, konon seorang anggota Parlemen berkata, “Kita… sudah kehilangan koloni di Amerika karena memasukkan pendidikan kita di sana. Kita tidak perlu mengulanginya lagi di India.19
Demikianlah, salah satu perjuangan yang paling menarik dan penting dalam sejarah kependidikan India mulai terwujud. Berikut ini adalah isu-isu controversial yang diperdebatkan pada awal abad ke-19:
1.  Apakah tujuan pendidikan dasar di India adalah memajukan pendidikan ketimuran ataukah memperkenalkan bahasa dan kebudayaan Barat?
2.    Apakah bahasa pengantar pendidikan yang digunakan adalah bahasa Inggris, Persia, Sansekerta, bahasa daerah India modern, ataukah kombinasinya yang sesuai?
Anjuran agar lebih banyak terlibat dalam pendidikan di India akhirnya menghasilkan sebuah pasal tertulis dalam East India Act 1813 yang menetapkan bahwa akan disediakan paling £10.000 per tahun untuk (1) menghidupkan kembali dan memajukan kesastraan serta membangkitkan keyakinan penduduk asli India yang terpelajar; dan (2) memperkenalkan dan mempromosikan kepandaian dari berbagai ilmu pengetahuan di kalangan penduduk wilayah Inggris di India.21 Dengan East India Company yang kini secara resmi menjalankan promosi pendidikan di India, perlu diambil keputusan berkaitan dengan penekanan relatif yang seharusnya diberikan kepada berbagai bagian kurikulum. Pada saat itulah, kontroversi kamus Orientalis-Anglicis yang sudah terkenal mencapai puncaknya. Akibatnya, diputuskan bahwa arah pendidikan di India baru akan ditentukan pada saat negara itu memperoleh kemerdekaan. Baik masyarakat Inggris maupun India tidak memilih salah-satu pihak dalam percekcokan ini. Kamus Orientalis atau terkadang disebut kamus Klasik, bersikeras bahwa pendidikan seharusnya ditekankan pada warisan kebudayaan India melalui media bahasa Sansekerta bagi masyarakat Hindu dan bahasa Arab bagi masyarakat Islam. Jika tidak, menurut kelompok ini, sekalipun tidak dipersatukan dalam pandangan, India akan terpisah dari kejayaan masa lalunya. Nilai-nilai dalam pendidikan Barat dapat diajarkan dengan bahasa klasik, sehingga perpaduan budaya Barat dan Timur dapat dilaksanakan.
Kaum Anglicis menganjurkan penggunaan bahasa Inggris sebagai media pendidikan dan pendidikan Barat pada umumnya sebagai jalan terbaik bagi kemajuan India. Kedua belah pihak sepakat bahwa sebagian besar masyarakat sebaiknya dididik dengan menggunakan bahasa daerah. Meskipun salah satu kelompok mendesak agar bahasa daerah digunakan pada semua jenjang pendidikan, pokok utama perdebatan itu difokuskan pada muatan dan bahasa pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi. Rammohum Roy yang dikenal sebagai bapak India modern, mewakili golongan India minoritas yang mampu berbicara dan sangat mendukung pendidikan ala Inggris. Sikapnya itu ditegaskan dengan sangat efektif dalam “Letter on Education”-nya (1823). Dalam tulisannya ini ia memprotes dukungan pemerintah terhadap pendidikan Hindu yang:
…hanya dapat diharapkan untuk mengisi benak kaum muda dengan seluk-beluk tata-bahasa dan perbedaan metafisika yang hanya sedikit atau tidak memiliki manfaat praktis bagi pemiliknya atau bagi masyarakat. Murid-murid akan memelajari apa yang sudah diketahui sejak 2000 tahun lampau dengan ditambahi seluk-beluk yang kosong dan sia-sia sejak ditemukannya hal itu oleh orang-orang spekulatif seperti yang sudah biasa diajarkan di semua wilayah India.22

Roy meyakini bahwa melalui pendidikan Inggris dan perhatiannya terhadap ilmu pengetahuan dan pikiran rasional, India akan mampu memasuki suatu zaman pencerahan baru.
Pukulan telak bagi harapan kaum Orientalis dilancarkan oleh Thomas Babington Macaulay pada 1834. sebagai ketua General Committee of Public Instruction, ia menyusun “Minute on Education” yang terkenal. Macaulay yang sama sekali tidak tahu-menahu tentang pengetahuan Sansekerta dan Arab, dengan enteng menghapuskan pengetahuan-pengetahuan ini karena dianggap tidak penting. Ia justru mengusulkan pendidikan Barat yang akan:
…membentuk segolongan orang yang berdarah dan bercirikan India, tetapi memiliki selera, opini, moral, dan intelektual Inggris. Kepada golongan inilah kita dapat menyerahkan penyempurnaan bahasa daerah negara, memperkayanya dengan istilah-istilah ilmu pengetahuan yang dipinjam dari tata-nama Barat, dan lambat-laun mengalih-bahasakannya agar sesuai sebagai sarana penyampaian ilmu pengetahuan kepada masyarakat.23

Agar adil bagi Macaulay, harus ditambahkan bahwa ia percaya program pendidikan lanjutan Inggris tidak hanya memperkenalkan pelajar India dengan pencapaian Barat yang mengagumkan, melainkan juga akan memberikan mereka kesempatan politik dan kepemimpinan yang lebih luas.
Maka, dalam beberapa hal, aliran pendidikan ketiga yang memasuki India memiliki kesamaan dengan dua aliran lainnya: memiliki bahasa khusus sendiri, perhatian istimewa pada pendidikan untuk satu golongan, dan memiliki karakteristik yang sangat bernuansa sastra. Aliran ini dibedakan dengan aliran lain dalam pandangannya yang sekuler, perhatiannya pada ilmu pengetahuan dan pemikiran Barat. Baik pendidikan Hindu maupun Islam tidak dihalang-halangi; namun tidak adanya dukungan pemerintahan ditambah dengan manfaat utama yang diperoleh dari pendidikan Barat berakibat aliran-aliran lama menyempit secara bertahap.
East India Company pada 1854 mengeluarkan sebuah dokumen yang besar artinya bagi pendidikan. Serangkaian dokumen yang mencakup Charter Act 1813 dan laporan oleh sederetan panjang orang Inggris terkemuka itu ditutup dengan Educational Dispatch 1854 yang paling komprehensif dan signifikan dari semuanya. Educational Dispatch kadang-kadang disebut sebagai Magna Charta-nya pendidikan India.*****
------------------------
Catatan Kaki:
1)       Edward F. Myers, Education in the Perspective of History. Harper & Row. New York. 1960: 49.
2)       Ibid.
3)       WM. Theodore de Bary (ed.). Source of Indian Tradition. Columbia. New York. 1958: 5.
4)       Istilah Hinduisme rupanya belum dipergunakan sampai saat invasi kaum Muslim pada abad 11 atau 12. “Hindu” adalah istilah bahasa Persia untuk “orang India”, sehingga Hinduisme adalah kepercayaan orang India.
5)       J. H. Hutton. Caste in India: Its Nature, Function, and Origins. Cambridge. New York. 1946: 5-12.
6)       Bertentangan dengan klasifikasi Wallbank, secara tradisional hanya kaum Brahmana yang disebut Daija atau generasi kedua.
7)       T. Walter Wallbank. A Short History of India and Pakistan. New American Library. New York. 1958: 26.
8)       Amaury de Riencourt. The Soul of India. Harper & Row. New Cork. 1960: 97.
9)       Sobharani Basu. “Forest Universities in Ancient India”. The Year Book of Education. World. Tarry town-on-Houdson. N.Y. 1957: 319.
10)   Ibid.
11)   De Bary, op.cit., h. 331.
12)   Ibid., h. 95
13)   T. Walter Wallbank. India in The New Era. Scott, Foresman. Chicago. 1951: 39.
14)   Riencourt, op. cit. h. 173-174.
15)   Ibid. h. 175.
16)   Untuk diagram sistem administrasi Inggris yang selengkapnya, lihat Wallbank, India in The New Era, op. cit., h. 62.
17)   Sebuah masyarakat Baptist pada tahun 1807 konon menerbitkan sebuah pamphlet yang berjudul “Adress to Hindus and Mohamedans” yang di dalamnya “Muhammad dianggap sebagai seorang nabi palsu dan Hinduisme dicela sebagai sekumpulan pemujaan berhala, takhayul, dan kebodohan”. S.N. Mukerji. History of Education in India. Acharya Book Depot. Baroda. 1951: 29.
18)   Dikutip dari Mukerji, ibid., h. 32.
19)   Ibid.
20)   Ibid., h. 34.
21)   Sir Philip Hartog. Some Aspects of Indian Education Past and Parent. Oxford Fair Lawn. N.J. 1939: 9.
22)   De Bary, op. cit. h. 471-474, 593.
23)   Ibid., h. 601.



>> Kembali ke Pusat Referensi Ilmiah


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar